Serentaun Kasepuhan Gelar Alam Jadi Momen Terindah Pelestarian Budaya Sunda
KABUPATEN SUKABUMI, Desa Sinaresmi kecamatan cisolok 4 Oktober 2026, Upacara adat Serentaun Kasepuhan Gelar Alam menjadi salah satu momen terindah dalam pelestarian dan penguatan budaya Sunda di Kabupaten Sukabumi. Kegiatan tersebut berlangsung penuh khidmat sekaligus meriah dengan menampilkan beragam tradisi dan kesenian adat yang menjadi warisan budaya masyarakat Sunda secara turun-temurun.
Kesepuhan gelar alam yang berada di desa sinaresmi kecamatan cisolok ini mejadi batas antar desa sinaresmi dan desa sinarasa kecamatan cikakak.
Suasana penuh kebersamaan dan penghormatan terhadap adat istiadat semakin terasa dengan hadirnya Bupati Sukabumi H. Asep Japar bersama Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas dalam rangkaian kegiatan Serentaun Kasepuhan Gelar Alam.
Kehadiran pimpinan daerah tersebut menjadi bentuk perhatian dan dukungan terhadap keberadaan masyarakat adat serta upaya menjaga nilai-nilai budaya lokal agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda.
Serentaun tidak sekadar menjadi sebuah acara adat tahunan. Tradisi ini memiliki makna mendalam sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarmasyarakat, menjaga keharmonisan dengan alam, serta mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan para leluhur.
Dalam kegiatan tersebut, Abah Ugi selaku sesepuh Kasepuhan Gelar Alam turut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan dan penyampaian pesan-pesan adat. Kehadiran Abah Ugi mencerminkan kuatnya peran sesepuh dalam menjaga keberlangsungan tradisi, tata nilai, serta identitas budaya masyarakat adat.
Berbagai budaya dan kesenian adat Sunda turut ditampilkan dalam rangkaian Serentaun. Penampilan tersebut menghadirkan suasana yang sarat dengan nilai tradisi, mulai dari prosesi adat, kesenian tradisional, hingga berbagai bentuk ekspresi budaya masyarakat Kasepuhan Gelar Alam.
Setiap rangkaian kegiatan menjadi gambaran bagaimana masyarakat adat tetap memegang teguh warisan leluhur di tengah perkembangan zaman. Tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi tersebut tidak hanya menjadi simbol identitas masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.
Bupati Sukabumi H. Asep Japar dalam kesempatan tersebut menunjukkan apresiasinya terhadap masyarakat Kasepuhan Gelar Alam yang terus menjaga dan melestarikan budaya Sunda. Menurutnya, kekayaan adat dan budaya merupakan bagian penting dari identitas Kabupaten Sukabumi yang harus dirawat bersama.
Pelestarian budaya, kata dia, tidak dapat dilakukan oleh masyarakat adat saja, tetapi membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, tokoh masyarakat, generasi muda, serta seluruh elemen masyarakat.
Serentaun Kasepuhan Gelar Alam juga menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah, masyarakat adat, dan masyarakat luas. Momentum tersebut memperlihatkan bahwa kemajuan daerah dapat berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi dan kearifan lokal.
Di tengah kemeriahan acara, nilai kebersamaan menjadi salah satu pesan yang paling kuat. Masyarakat berkumpul, mengikuti prosesi adat, menyaksikan berbagai pertunjukan budaya, serta merasakan langsung atmosfer tradisi Sunda yang masih terjaga.
Kehadiran Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas bersama Bupati Sukabumi semakin menambah makna kegiatan tersebut. Pemerintah daerah menunjukkan komitmennya untuk terus memberikan ruang bagi tumbuh dan berkembangnya budaya lokal sebagai bagian dari pembangunan daerah.
Serentaun Kasepuhan Gelar Alam pada 4 Oktober 2026 akhirnya tidak hanya menjadi sebuah perayaan adat, tetapi juga menjadi momen terindah untuk mengingat kembali akar budaya, menghormati leluhur, mensyukuri anugerah alam, dan memperkuat persatuan masyarakat.
Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa budaya Sunda masih memiliki tempat yang kuat di tengah kehidupan masyarakat Kabupaten Sukabumi. Melalui peran para sesepuh seperti Abah Ugi, dukungan pemerintah daerah, serta keterlibatan generasi muda, warisan budaya Kasepuhan Gelar Alam diharapkan terus lestari dan dapat diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.
Serentaun Kasepuhan Gelar Alam menjadi pesan penting bahwa menjaga budaya berarti menjaga jati diri. Dari adat yang diwariskan leluhur, masyarakat menemukan nilai kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam yang tetap relevan hingga hari ini.
Jurnalis. Ojan


















