Hari Santri Bukan Sekadar Seremoni, H Ade Ridwan Tabroni “merupakan Tonggak Kebangkitan Bangsa.”

News16 Dilihat
banner 468x60

kabupaten Sukabumi.Momentum Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap 22 Oktober diharapkan menjadi tonggak awal kebangkitan bangsa. Peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat jasa besar ulama dan santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Peringatan HSN merujuk pada peristiwa bersejarah Resolusi Jihad yang diserukan KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 dan resmi ditetapkan melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo.

banner 336x280

Salah satu tokoh keagamaan di Palabuhanratu, H. Ade Ridwan Tabroni, M.Pd (Sekretaris MUI Kecamatan Palabuhanratu) memandang Hari Santri sebagai momentum bangkitnya santri untuk mengambil peran penting dalam pembangunan bangsa dan negara.

“Hari Santri harus menjadi momentum bangkitnya santri. Santri harus bisa mengambil peranan penting dalam pembangunan bangsa dan negara, serta menjadi contoh suri tauladan bagi generasi muda lainnya,” ujar Ade, Rabu (21/10/2026).

Sejarah Lahirnya Hari Santri

Ade menceritakan, pasca proklamasi 17 Agustus 1945, kondisi Indonesia belum aman karena kedatangan kembali tentara Sekutu yang diboncengi NICA (Belanda).

Pada 21-22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari memimpin pertemuan para kiai se-Jawa dan Madura di Surabaya. Hasilnya adalah Resolusi Jihad yang menyatakan membela tanah air dari penjajah hukumnya fardu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim).

“Seruan Resolusi Jihad membakar semangat para santri, laskar Hizbullah dan Sabilillah, serta masyarakat luas. Gelora semangat inilah yang menjadi pendorong utama pecahnya pertempuran heroik 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan,” jelasnya.

Gagasan Hari Santri sendiri diawali tahun 2014 oleh para santri Pondok Pesantren Babussalam, Malang, yang kemudian diperjuangkan PBNU di bawah Ketua Umum KH. Said Aqil Siradj hingga akhirnya ditetapkan Presiden Jokowi pada 15 Oktober 2015.

Harapan untuk Santri Masa Kini

Menurut Ade, santri masa kini harus memaknai Hari Santri dengan semangat jihad mempertahankan NKRI agar tetap aman, tentram, dan damai dengan mengisi kegiatan positif, terutama keagamaan.

“Kita patut berterima kasih kepada Mbah KH. Hasyim Asy’ari dan Mbah KH. Said Aqil Siradj yang dengan jasa beliau akhirnya lahir Hari Santri Nasional,” ucapnya.

Ia berharap pemerintah daerah maupun nasional terus mendukung kemajuan pesantren.

“Kita apresiasi pemerintah atas pengakuannya terhadap santri. Misalnya ada jalur masuk TNI, Polri lewat jalur tahfidz. Itu bentuk pengakuan. Di Kemenag ada Direktorat Pesantren khusus. Itu bukti kepedulian pemerintah karena terbukti perjuangan Indonesia muncul dari pesantren,” pungkas Ade.

Puncak Peringatan di Sukabumi

Hari Santri Nasional di Kabupaten Sukabumi akan diperingati Kamis, 22 Oktober 2026. Tingkat kabupaten akan digelar apel di Lapangan Korpri Kecamatan Cisaat, sedangkan tingkat kecamatan di wilayah masing-masing.

Khusus Kecamatan Palabuhanratu, puncak acara Hari Santri akan digelar pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

 

(A. Taopik)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *